Surat Terbuka Untuk Presiden, Dari Persatuan Remaja Pecinta Organ Tunggal
Oleh : Zorino Farica. s
Kepada presiden Jokowi yang terhormat dan amat sangat kami cintai. Semoga bapak sehat selalu. Serta di limpahi rahmat dan hidayat oleh Allah SWT.
Bapak presiden yang mulia pada kesempatan ini izinkanlah kami segenap keluarga besar yang menamakan diri sebagai Remaja Pecinta Organ Tunggal atau sering di panggil REPOT untuk menyampaikan keluh kesah kami berhubung maraknya aksi boikot oleh pemerintah terhadap dunia perorgan-tunggalan.
Sungguh amat sangat disayangkan peraturan undang undang daerah yang banyak merugikan dunia Organ Tunggal. Mulai dari batas waktu hingga ketatnya peraturan yang di tetapkan oleh pemerintah saat diselengarakannya pegelaran organ tunggal.
Mulai dari aturan yang mengatur tata cara bagaimana kami bergoyang. Dimana kami tidak boleh bergoyang dengan membawa senjata tajam. Padahal tampa aturan itu kami juga tidak pernah berfikiran akan bergoyang sambil membawa senjata. Lalu ada aturan kami tidak boleh bergoyang berpasangan. Sangat repot bagi kami membuat pagar pembatas area bergoyang kaum laki laki dan kaum perempuan. Padahal secara tradisi dan adat istiadat turun temurun dunia perorgan-tunggalan sudah mengatur bahwa pihak laki laki di perbolehkan bergoyang di bawah pentas. Dan pihak perempuan bergoyang di atas pentas. Lalu batasan jam saat kami bergoyang amatlah sangat merepotkan. Pak presiden yang terhormat dalam pagelaran organ tungal sebagai budaya nusantara ini kami menjunjung tinggi azas toleransi dan kebersamaan.
Bergoyang tak pernah di siang hari. Hal ini di karenakan kami menghormati kaum karyawan dan pegawai negeri dan anak sekolah yang tidak bisa absen dari pekerjaannya. Meskipun mayoritas penduduk adalah buruh tani. Pekerja pabrik. Tukan gali sumur. Tukang ojek. Tukang Semir sepatu Tukang tipu, copet, Anak putus sekolah dan penganguran yang notabenya memiliki banyak waktu siang yang senggang namun kami tetap menghormati penduduk yang karyawan, pegawai negeri dan anak sekolahan.
Mulai organ tunggal juga tak bisa pukul tujuh karena umat muslim juga akan melakukan sholat magrib. Tak ada undang undangnya namun dewan tertinggi REPOT sangat menentang organ tungal di adakan jam 6 sampai jam 9. Karena kami lebih memilih ke mesjid dulu sholat magrib lalu berdoa dan dilanjutkan sholat isa. Meskipun tidak semua yang seperti ini namun kami tidak ingin memikirkannya karena amal seseorang hanya tuhan yang tahu. Lalu kenapa setelah jam 9? Karena antara jam 8 sampai jam 9 adalah waktu kami berkumpul sejenak dengan keluarga. Bercerita dengan orang tua. Anak anak paman bibi tante untuk makan malam bersama. Maka jika bapak presiden memperhatikan dengan seksama maka inilah budaya bineka tungal ika dalam dunia organ tunggal. Organ tungal di akhiri secara musyawarah dan munfakat yang telah di sepakati oleh bapak organ tunggal bahwa organ tunggal akan berhenti jika tidak ada lagi yang bergoyang. Oleh karena itu kami yakin dan percaya. Makna kata "tunggal" dalam organ tunggal sama persis maknanya dengan "tunggal" dalam bineka tunggal ika.
Pemerintah berangapan bahwa hal itu menggangu masyarakat akhirnya hanya boleh sampai jam 12 malam. Padahal kami yakin tak ada satupun masyarakat yang terganggu. Sekali lagi organ tunggal mengajarkan toleransi yang tinggi. Dalam survei yang di lakukan oleh anak anak kuliahan dalam risertnya mengenai dunia perorgan tunggalan. Bahwa dentang radius bunyi suara yang di keluarkan oleh organ tunggal bisa mencapai 743,2 meter persegi. Dan berbanding lurus dengan waktu. Pak presiden jangan meragukan anak kuliahan itu karena sebagai akademis yang hebat kami yakin dia benar. Bahkan kuliah S1 nya saja bisa sampai 7 tahun. Sunguh mulia sehebat gelarnya "mahasiswa". Namun tak pernah kami dengar seantreo nusantara ini. Adanya blokade besar besaran dari warga seantreo radius 743,2 meter persegi itu. Kalaupun ada itu dari kelompok religius radikal yang datang marah marah bersama wartawan. Tapi setelah wartawan pergi kelompok itu juga ikut goyang koq pak.
Pemerintah menuding kami bahwa saat bergoyang kami mabuk mabukan. Hingga menyebabkan kericuhan. Kami yakin itu sebuah finah besar. Yang sengaja di lontarkan untuk memecah belah angota pecinta organ tunggal. Kami yakin ada sebuah agenda besar dalam peristiwa mabuk mabukan itu. Orang yang mabuk itu adalah setingan.
Kenapa coba mereka mabuk di acara organ tunggal? Padahal pemerintah sudah menyediakan bar dan club malam yang disana di bolehkan mabuk mabukan. Maka jika di tanya seperti ini mereka pasti berdalih mahal. Tuntutan ekonomi.
Kami sejujurnya juga mabuk mabukan kok pak presiden. Tapi kami tidak mabuk mabukan di bar dan club malam meski disana dibolehkan karena membayar pajak.
Kami sembunyi sembunyi. Sangat malulah kami jika orang, tetangga sanak saudara keluarga besar tahu kami mabuk mabukan. Bagaimana cara kami menyembunyikan muka kami bila mereka tahu kami mabuk mabukan dengan tuak. Bahkan pedagang tuak saja malu malu berjualan tuak. Ketahuilah pak presiden. Bagi kami mabuk mabukan dengan tuak adalah sebuah ranah privasi yang akan selalu kami sembunyikan sedalam dalamnya seperti kami menyembunyikan film biru.
Oleh karena itu kami yakin. Orang yang mabuk mabukan itu di seting dan di rencanakan agar masarakat yang awam bisa terprofokasi hingga terjadi hal yang tidak di inginkan. Jika memang salah salahkan pemabuknya. Bukan organ tunggalnya.
Selain masalah mabuk mabukan dan perkelahian. Pemerintah menuding bahwa para biduan sering di tuding melakukan tarian erotis. Pemerintah gagal paham untuk urusan ini. Sunguh gagal paham menurut kami.
Pak presiden. Kalau untuk tarian erotis pemerintah sudah menyediakan lokalisasi dan bar bar malam yang membayar pajak. Buat apa tarian erotis di organ tunggal. Biaya satu biduan hanya 300 ribuan. Plus beberapa daerah yangbmenerapkan sistem saweran. Yang paling banyak hanya mendapat uang 600 ribuan. Bayangkan apa yang di dapat oleh penari erotis yang ada di bar bar dan klub malam yang bayar pajak. Bisa jutaan dalam semalam.
Kalau bapak banyak melihat tarian erotis di You Tobe. Jangan percaya. Sekali lagi itu rekayasa. Ingat bapak you tobe itu buatan Amerika. Konspirasi amerika serikat yang juga ikut memecah belah kami. Kalau Organ Tunggal di hilangkan. Apalagi hiburan kami. Tempat hiburan di zaman sekarang sangat mahal. Sangat tidak masuk akal bagi kami yang ingin mendengar lagu life ke cafe yang satu makanannya adalah gaji kami selama 3 bulan.
Sudah sepatutnya organ tungal di jadikan suatu kebudayaan nasional. Yang mencerminkan keagungan seni nusantara. Pak presiden cobalah sekali sekali ikut bergoyang bersama kami. Rasakan sebuah "hiburan" dari ketidak mampuan kami.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar